Breaking News
light_mode

Kucing di Pangkuan Kekuasaan: Nilai Bobby, Lebih Tinggi Dari Harga Diri Orang Maluku (Sebuah Refleksi)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 21 Okt 2024
  • visibility 390
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Faisal Marasabessy

Di jendela dingin berdiri lampu-lampu kota menyisakan wajah lelapnya malam. Diantara jalan-jalan dan bangku-bangku kota, beberapa orang dibiarkan tidur dalam kelaparan, sementara beberapa hewan peliharaan orang kaya begitu pulas kekenyangan di atas kingkoil.

Bobby begitu sapaannya, ia mungkin adalah wajah dari pesona kekuasaan, yang mencerminkan kesan ‘kehidupan yang tenteram’ di lingkaran elit politik. Pada beberapa kesempatan, Bobby sering terlibat aktif di sosial media bersama Prabowo Subianto. Jika Prabowo Subianto adalah presiden republik Indonesia, maka bobby adalah presiden untuk para kucingnya. Di lain tempat pada ruas tubuh Timur Indonesia terutama Maluku, bahkan untuk membayangkan sulit rasanya mendapatkan akses setara dari pusat kekuasaan yang dinikmati Bobby.

Perlu diingat, Maluku adalah monumen, yang pernah menjadi momentum dalam merubah arah lintasan sejarah bangsa ini. Namun posisi tawar Maluku selalu berada pada derivasi kedua, dan terkesan menjadi figuran. Akibatnya, kendati Maluku memiliki resources yang cukup bahkan melimpa, justru dalam pengelolaannya seringkali menciptakan ketidakadilan. Sumber daya yang diharapkan dapat dikelola untuk memberikan dampak Trickle down effect terhadap pertumbuhan ekonomi Maluku malah menciptakan kerutan pada wajah-wajah yang dihiasi beragam jenis merek skincare dengan harga murah. Yang juga tak cukup untuk membeli sampoh si Bobby.

Diskriminasi Itu Nyata

Diskriminasi terhadap orang Maluku bukanlah hal baru. Dari sejarah konflik sektarian hingga kebijakan ekonomi yang tidak berpihak pada rakyat, masyarakat Maluku telah lama merasa terpinggirkan dari narasi pembangunan Indonesia.

Diskriminasi kerap terselubung dalam sikap paternalistik dari pemerintah pusat. Masyarakat Maluku dipandang sebagai “objek” pembangunan, bukan subjek yang berhak menentukan masa depannya sendiri. Dalam banyak kasus, suara orang Maluku hanya dianggap penting selama masa pemilu, di mana janji-janji politik dihamburkan tanpa realisasi yang jelas setelahnya. Cerita pilu tentang itu bisa kita baca diberbagai media.

Di tengah situasi ini, kita harus bertanya: Apakah kucing Bobby yang duduk nyaman di pangkuan Prabowo setiap hari memiliki hak-hak yang lebih besar daripada orang-orang Maluku yang terus berjuang untuk mendapatkan kesejahteraan?

Pertanyaan diatas bukan sekadar sentimen emosional melainkan sebuah refleksi dari betapa jauhnya kesenjangan keadilan yang dialami masyarakat Maluku dalam narasi nasional.

Menggugat Narasi Pusat

Opini ini bukanlah soal iri hati terhadap Bobby, melainkan sebuah gugatan terhadap ketimpangan yang nyata antara pusat dan daerah. Orang Maluku tidak meminta untuk diperlakukan seperti kucing peliharaan; Mereka hanya ingin keadilan yang setara sebagai warga negara yang sah dan berhak. Namun, ketika seekor kucing bisa mendapatkan lebih banyak sorotan, perhatian, dan kenyamanan daripada manusia-manusia yang hidup di daerah yang kaya namun terpinggirkan, maka kita harus menggugat narasi besar yang sedang dimainkan di atas panggung politik nasional.

Pusat kekuasaan di Jakarta seringkali tidak mampu (atau tidak mau) melihat kenyataan yang ada di luar Jawa. Orang-orang Maluku, Papua, dan daerah-daerah timur lainnya tetap dilihat sebagai periferi yang tidak signifikan. Jika ada sumber daya yang bisa diambil, maka eksploitasi dilakukan tanpa pertimbangan terhadap kesejahteraan jangka panjang masyarakat setempat. Jika ada konflik, solusinya hanyalah pendekatan militeristik. Sementara itu, di ruang-ruang kekuasaan, figur-figur seperti Bobby dengan mudah menjadi maskot yang menyimbolkan kehidupan yang serba terjamin.

Diskriminasi Ini harus Berakhir

Orang Maluku, seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, harus mendapatkan hak yang setara dalam akses terhadap sumber daya, pendidikan, kesehatan, dan partisipasi politik. Mereka bukan objek yang bisa dieksploitasi atau dipinggirkan. Jika perhatian lebih diberikan kepada seekor kucing daripada kepada masyarakat yang terus berjuang di tengah ketidakadilan, maka jelas ada yang salah dengan prioritas bangsa ini.

Perjuangan untuk keadilan tidak boleh berhenti hanya di panggung politik pusat. Masyarakat Maluku harus terus mengorganisir diri, memperjuangkan hak-haknya, dan menggugat sistem yang tidak adil ini. Keadilan bukanlah soal siapa yang lebih dekat dengan kekuasaan, tetapi soal siapa yang mendapatkan hak-haknya sebagai manusia dan warga negara. Bobby mungkin tidak bersalah, tetapi simbolisme yang ia bawa mencerminkan ketidakadilan yang harus segera kita perbaiki.

Saatnya Indonesia bangkit dari narasi ketimpangan ini. Jika kita terus membiarkan situasi ini terjadi, maka bukan hanya harga diri orang Maluku yang ternoda, tetapi juga martabat seluruh bangsa. Sebuah bangsa yang adil tidak akan pernah menganggap binatang peliharaan lebih penting daripada rakyatnya sendiri.

Penulis adalah Djong Ambon Kontemporer

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masa Depan Pesisir Maluku: Transformasi Sosial, Ekonomi, dan Budaya di Era Pemerintahan Baru

    Masa Depan Pesisir Maluku: Transformasi Sosial, Ekonomi, dan Budaya di Era Pemerintahan Baru

    • calendar_month Minggu, 9 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Yatsrib Akbar Sowakil S.Pi. M.Si Ambon,Tajukmaluku.com-Provinsi Maluku sebagai wilayah kepulauan dengan luas laut lebih dari 90% total wilayahnya, memiliki karakteristik spesifik seperti adanya laut dalam diantara pulau-pulau yang tersebar di wilayah ini seperti Laut Banda, Laut Seram dan Laut Maluku dan perairan dangkal yang dominan di Laut Arafura menjadikan wilayah ini sebagai salah satu […]

  • Dorong Digitalisasi Pendidikan, PLN Pasang SuperSUN pada 13 Sekolah di Tanimbar dan MBD

    Dorong Digitalisasi Pendidikan, PLN Pasang SuperSUN pada 13 Sekolah di Tanimbar dan MBD

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Saumlaki,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pemerataan akses energi dan peningkatan kualitas pendidikan di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Saumlaki, PLN menghadirkan solusi kelistrikan berbasis energi bersih lewat program SuperSUN di Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat […]

  • KPU Kota Kembalikan Rp13 M Lebih Sisa Dana Hibah ke Pemkot Ambon

    KPU Kota Kembalikan Rp13 M Lebih Sisa Dana Hibah ke Pemkot Ambon

    • calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Ambon telah mengembalikan sisa penggunaan dana hibah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024 kepada Pemerintah Kota Ambon. Dari total pagu yang dianggarkan sebesar Rp 35.599,936,00, KPU hanya dapat menyerap anggaran sebesar Rp21,687,387,210 sisanya sebesar Rp13,912,548,790 dikembalikan ke kas daerah. Ketua KPU Kota Ambon, Kaharudin Mahmud mengungkapkan, pengembalian ini dilakukan sesuai […]

  • PLN dan Jababeka Morotai Perkuat Sinergi, Siapkan Infrastruktur Listrik untuk Dukung Investasi dan Pariwisata

    PLN dan Jababeka Morotai Perkuat Sinergi, Siapkan Infrastruktur Listrik untuk Dukung Investasi dan Pariwisata

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Morotai,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) UP3 Tobelo melakukan kunjungan strategis ke PT Jababeka Morotai sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam mendukung pengembangan investasi, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Pulau Morotai. Senin (22/6/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kebutuhan kelistrikan jangka panjang yang akan menjadi dasar pengembangan sistem kelistrikan seiring pertumbuhan kawasan di masa mendatang. […]

  • La Demi Ancam Lapor Pidana, Kuasa Hukum Mr. Sun Deai: Jangan Gertak, Kalo Serius Kita Hadapi

    La Demi Ancam Lapor Pidana, Kuasa Hukum Mr. Sun Deai: Jangan Gertak, Kalo Serius Kita Hadapi

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kuasa hukum Mr. Sun Deai, Bansa Hadi Sella, Sutrisno Hatapayo dan Akbar F. Salampessy menanggapi ancaman laporan pidana yang rencananya diajukan oleh La Demi, terhadap mereka. La Demi, mitra bisnis Mr. Sun Deai, dikabarkan akan melaporkan kuasa hukum tersebut dengan tuduhan Merusak Barang Milik Perusahaan. Tuduhan ini berawal dari permintaan Mr. Sun Deai kepada kuasa […]

  • Komisi I DPRD Maluku Pastikan Bakal Bahas Skema Penanganan Bentrok Komunal bersama Polda

    Komisi I DPRD Maluku Pastikan Bakal Bahas Skema Penanganan Bentrok Komunal bersama Polda

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi I DPRD Provinsi Maluku memastikan akan memanggil Kepolisian Daerah (Polda) Maluku guna membahas langkah konkret untuk menjaga stabilitas keamanan dan perdamaian. Hal itu menyusul adanya ekskalasi konflik yang terjadi pada sejumlah wilayah di Maluku, termasuk di Ohoi Danar, Kabupaten Maluku Tenggara, menjadi catatan penting bagi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku. Ketua Komisi […]

expand_less