Sepi Pengunjung, Booth UMKM di Areal Gong Perdamaian Terancam Jadi Besi Tua
- account_circle Admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Kawasan Gong Perdamaian Dunia yang selama ini dibanggakan sebagai salah satu ikon pariwisata di Kota Ambon tampak terlihat sunyi. Deretan booth container UMKM yang dibangun di jantung kota itu kini banyak yang tutup. Dari 19 booth yang tersedia, sebagian besar tidak lagi beroperasi akibat minimnya pengunjung dan anjloknya pendapatan pedagang.
Kondisi itu diakui salah satu pelaku UMKM yang meminta identitasnya disembunyikan. Kepada media Tajukmaluku.com ia mengatakan aktivitas jual beli di kawasan tersebut nyaris mati di hari-hari biasa.
“Pengunjung hampir tidak ada. Kadang pendapatan paling tinggi cuma Rp50 ribu sehari. Bahkan sering pulang dengan tangan kosong,” katanya, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, keramaian hanya terjadi saat ada event tertentu atau malam Minggu. Itu pun tidak berlangsung stabil.
“Kalau malam Minggu atau ada kegiatan baru bisa dapat Rp150-200 ribu. Tapi setelah itu sepi lagi,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat banyak pelaku UMKM di kawasan tersebut memilih menghentikan usaha mereka. Sebab pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus ditanggung.
Setiap bulan pelaku UMKM ini dikenakan biaya sewa Rp450 ribu per bulan ditambah uang kebersihan Rp50 ribu.
Bagi pedagang dengan omzet yang bahkan tidak mencapai Rp500 ribu per bulan, angka itu dinilai sangat berat.
“Kadang kita tidak bayar karena mau bayar pakai apa. Pendapatan saja tidak cukup. Dan biasanya itu dimengerti juga oleh pihak Dispar Maluku,” katanya.
Ironisnya, kawasan yang dibangun dengan embel-embel penguatan ekonomi kreatif dan wisata itu justru gagal menciptakan ekosistem pengunjung. Pemerintah Provinsi dalam hal ini terlihat lebih fokus membangun fisik kawasan dibanding memastikan keberlangsungan ekonomi para pelaku UMKM di dalamnya.
Minimnya aktivitas wisata, lemahnya promosi, hingga buruknya tata kelola kawasan membuat Gong Perdamaian Dunia kehilangan daya tarik. Booth-booth yang semestinya menjadi pusat aktivitas ekonomi kini berubah seperti besi tua yang menunggu waktu untuk dibuang.
Masalah lain juga muncul dari sisi keamanan. Sejumlah booth dilaporkan pernah dibobol pencuri. Para pelaku diduga masuk dengan melompati pagar belakang kawasan sebelum membongkar isi container pedagang.
“Kejadian pembobolan sudah berulang kali terjadi. Mereka masuk dari belakang, lompat pagar lalu membobol booth dari belakang.” ujar sumber tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya pengelolaan kawasan wisata oleh pemerintah daerah. Dinas Pariwisata Provinsi Maluku dinilai gagal membangun model pengembangan UMKM yang berkelanjutan. Infrastruktur dibangun, tetapi arus perekenomian tidak diciptakan. Booth disiapkan, tetapi pasar dibiarkan mati.
Padahal, dalam berbagai kesempatan, sektor UMKM selalu dijadikan jargon pembangunan ekonomi daerah. Namun kenyataan di lapangan berbanding terbalik, pelaku usaha kecil ini hanya dijadikan gimmic. Mereka dibiarkan bertahan sendiri ditengah kawasan wisata yang tak lagi terlihat menarik.
Situasi ini bila terus dibiarkan, kawasan Gong Perdamaian Dunia hanya akan menjadi proyek estetika tanpa kehidupan ekonomi. Sebuah etalase wisata yang hanya layak dijadikan tempat selfi.
Hingga berita ini tayang, pihak Dinas Pariwisata Provinsi Maluku belum berhasil dihubungi.*(01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar