Breaking News
light_mode

Menjadi Terbiasa dengan Konflik di Maluku

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
  • visibility 184
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dhani Pelupessy

(Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji)

Tajukmaluku.com-Kita sering berkonflik tanpa tahu asal penyebabnya dari mana. Penyebabnya sangat beragam. Aktor intelektual dibalik konflik yang meletup itu pun kita tidak punya kemampuan mengetahuinya. Siapa pelakunya? Tidak tahu. Sasaran terakhir ialah pihak kepolisian, harus kerja ekstra mengusut tuntas siapa pelakunya.

Namun, pihak kepolisian kewelahan. Intelijen pun bingung. Padahal, mereka diajarkan “asas praduga tak bersalah”. Situasi ini memang sangat dilematis bagi polisi. Kalau mereka tetapkan “siapa tersangkanya” berdasarkan “asas praduga tak bersalah”, khawatirnya akan muncul reaksi dari masyarakat. Orang-orang berontak melawan polisi. Memang, semua ini serba salah.

Karena tidak tahu siapa pelakunya, kita pun mulai meraba-raba dan menganalisis. Bahwa konflik di Maluku disebabkan oleh persoalan struktural ekonomi-politik. Misalnya, masalah ketimpangan, ketidaksejahteraan, akses pendidikan yang terbatas, dan segala persoalan lain yang berkaitan dengan semua itu kita anggap sebagai akar masalah konflik di Maluku.

Sementara di sisi lain, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat berdasarkan logika pembangunannya sendiri. Tujuannya sangat mulia, untuk kesejahteraan kolektif, agar konflik dapat teratasi. Namun, terkadang logika pembangunan itu tidak sejalan dengan ‘local wisdom’ masyarakat Maluku. Jadi, semua menjadi buntu.

Menelusuri akar masalah konflik di Maluku tidak ada habisnya. Konflik di Maluku telah menjadi semacam laboratorium bagi para peneliti sosial. Mulai dari para antropolog, sosiolog, psikolog, ilmu politik, hukum, ilmu-ilmu keagamaan (baik Islam maupun Kristen), dan studi filsafat, semua telah berupaya membongkar akar persoalan konflik di Maluku. Tapi, semua itu tampaknya tidak berfungsi dalam penyelesaian konflik di Maluku.

Akhirnya, semua studi itu hanya tersimpan di balik ruang-ruang perpustakaan. Semua studi itu berubah menjadi arsip dengan katalog yang lumayan banyak. Kemudian, arsip-arsip itu mengendap dalam ingatan kolektif kita bersama. Membentuk pengetahuan dan pemahaman. Tapi, belum terejawantahkan menjadi program untuk pengentasan masalah konflik di Maluku.

Meskipun demikian, studi-studi yang telah dilakukan itu suatu saat akan memberi manfaat. Terutama bagi generasi Maluku ke depannya. Ketika mereka mulai membuka arsip studi-studi itu, pasti mereka terkaget-kaget. Betapa “bodohnya” orang-orang Maluku di masa lampau, yang sebetulnya adalah kita saat ini. Begitulah kira-kira, jika saya membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.

Konflik di Maluku memang tidak pernah habis dibahas. Titik temu pemahaman dalam penyelesaian konflik ini tak pernah terjadi. Masing-masing dengan logikanya sendiri. Semua menyodorkan pandangan paling terbaik untuk penyelesaian konflik di Maluku, yakni dengan cara ini dan itu. Tapi, sebetulnya tidak ada titik temu pemahaman yang jelas dalam pengentasan konflik tersebut.

Pemerintah daerah punya pemahaman sendiri. Para intelektual publik juga punya pemahamannya sendiri. Masyarakat pun punya pemahamannya sendiri. Semua pemahaman bergerak secara sporadis, terpisah-pisah. Tidak ada titik temu yang jelas. Akhirnya, konflik terus meletup dan mengambang tanpa arah jelas.

Dialog publik sudah berapa kali di lakukan, mempertemukan unsur pemuda, intelektual publik, pemerintah, legislator, dan masyarakat, tapi hasilnya tetap sama saja. Konflik masih terus terjadi. Konflik tidak pernah hilang. Ya, konflik tidak pernah hilang. Konflik akan terus menjerat psikologis kita sehari-hari, dan kita mulai terbiasa dengannya. Tapi, apakah ini pilihan rasional?

Meminjam pendapat Donna J. Haraway, bahwa kita saat ini hidup dalam situasi penuh masalah. Kita tidak bisa keluar darinya. Kita harus hidup di dalamnya. Menyatu dengan masalah itu, sembari membangun relasi kekerabatan dengan semua makhluk hidup. Artinya, kita tidak bisa menghindari konflik. Kita harus hidup di dalam konflik itu sendiri. Menjadi terbiasa dengannya.

Tapi, kadangkala kita berusaha menyelesaikan konflik itu dengan membayangkan situasi aman di masa mendatang. Bagi Donna J. Haraway, bahwa hidup dengan masalah tidaklah seperti itu. Kita tidak bisa keluar dari konflik dengan cara membayangkan situasi aman di masa depan. Kita harus hidup di dalam konflik itu sendiri. Dan ini adalah pilihan rasional.

Jadi, kita harus terbiasa dengan konflik itu sendiri. Menjadi rutinitas harian yang perlu kita jalani secara terus menerus ke depannya. Menyatu dengannya. Dengan begitu, kita akan mendapati banyak jawaban tak terduga dibalik konflik yang terus terjadi. Jawaban-jawaban itu nantinya akan menjadi solusi yang lebih orisinil terhadap pengentasan konflik di Maluku.*

  • Penulis: Admin

Komentar (1)

  • Bungwir

    Menawarkan solusi untuk mendapatkan solusi dan berakhir dengan kebuntuan solusi. Sebenarnya satu-satunya solusi adalah setiap individu harus punya kesadaran atas diri dan akibat dari perbuatan dirinya. Sebab konflik di Maluku adalah peristiwa yang tidak natural, ia diciptakan. Sama halnya dengan kerusuhan 1999, saat Gus Dur memberikan pernyataan bawa, “yang bisa menyelesaikan konflik adalah masyarakat Maluku sendiri” pernyataan ini dianggap, negara lepas tangan. padahal akhirnya konflik bisa teratasi karena masyarakat Maluku mulai sadarr, betapa merekalah yang menciptakan kuburan mereka sendiri.

    Balas30 Januari 2026 3:06 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Irigasi D1 BUBI Mangkrak; RUMMI Minta APH Periksa BWS Maluku dan Kontraktor

    Irigasi D1 BUBI Mangkrak; RUMMI Minta APH Periksa BWS Maluku dan Kontraktor

    • calendar_month Senin, 10 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Bula,Tajukmaluku.com-Proyek Pembangunan irigasi di BUBI Kabupaten SBT yang bernilai 226,9 Miliaran sampai saat ini belum difungsikan dan tidak bisa digunakan alias ( mangkrak ), karena diduga keras ada permainan tidak sehat dalam pelaksanaan proyek pembangunan irigasi yang mulai dikerjakan tahun 2017-2020 itu.(10/03/2025) Proyek ini sudah terhitung memakan waktu pekerjaan selama 4 tahun namun petani tidak […]

  • Ambon City Of Depression: Orang-Orang Gila Dalam Pelukan PJ Walikota.

    Ambon City Of Depression: Orang-Orang Gila Dalam Pelukan PJ Walikota.

    • calendar_month Jumat, 29 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Faisal Marasabessy Kehadiran orang-orang dengan gangguan jiwa yang semakin banyak di Kota Ambon belakangan ini menciptakan pemandangan sosial yang ironis sekaligus menyayat hati. Mereka berkeliaran tanpa arah, dari jantung kota Ambon hingga pinggiran kota, kehadirian mereka menciptakan citra kota yang tak lagi mampu merawat manusianya. Selain masuk dalam isu sosial, fenomena ini menjadi sebuah […]

  • Sangadji dan Benih Nasionalisme Indonesia

    Sangadji dan Benih Nasionalisme Indonesia

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Arman Kalean Lessy, M.Pd., C.Md (Ketua DPD KNPI Maluku || Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon) Tajukmaluku.com-Banyak dari kritikus yang menukil pendapat dari Benedict Anderson tentang imagined community, lalu mengaitkannya dengan konsep Nasionalisme. Tanpa ragu, mereka sering nyinyir dengan ujaran “Bangsa Indonesia adalah imajinasi Sukarno saja”. Seolah Indonesia hanyalah visi dari Sukarno seorang, mereka […]

  • Wagub Main “Tangan Besi” Abaikan Aturan Putus Kontrak Sepihak

    Wagub Main “Tangan Besi” Abaikan Aturan Putus Kontrak Sepihak

    • calendar_month Senin, 23 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath diduga mulai menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan Gubernur Maluku kepadanya. Ini terlihat dari upayanya dalam menangani pedagang Pasar Mardika. Sebagaimana pernyataan yang disampaikan Wagub pada laman facebook milik pemerintah Provinsi Maluku. Pada 14 Juni 2025. Gubernur telah memandatkan tugas penataan pedagang kepada Wagub. Akan tetapi bukan pedagang yang diatur, malah usaha […]

  • KNPI Maluku: Rovik Afifudin jadi Panutan Sosok Politisi Berkualitas

    KNPI Maluku: Rovik Afifudin jadi Panutan Sosok Politisi Berkualitas

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Maluku menilai Rovik Akbar Afifuddin sebagai sosok politisi yang berkualitas dan pantas jadi panutan. Untuk itu, KNPI Maluku berkomitmen untuk terus membersamai dan mengawal kiprah para politisi muda berkualitas, khususnya mereka yang memiliki rekam jejak aktivisme dan pengalaman organisasi yang matang, termasuk figur-figur mantan Cipayung seperti Rovik. […]

  • Hadiri Dialog Publik DPW GEMA Mathla’ul Anwar Maluku, Hendrik Lewerissa Ingatkan Terus Jaga Kemajemukan di Maluku

    Hadiri Dialog Publik DPW GEMA Mathla’ul Anwar Maluku, Hendrik Lewerissa Ingatkan Terus Jaga Kemajemukan di Maluku

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menghadiri dialog publik bertema “Moderasi Beragama Sebagai Fondasi Harmoni Antar Umat Beragama di Maluku” yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah Generasi Muda Mathla’ul Anwar (DPW GEMA Maluku) di New Baileo Cafe, Ambon, Jumat (27/2/2026). Forum ini mempertemukan unsur Pemerintah Provinsi Maluku, akademisi lintas kampus, dan generasi muda. Ketua DPW Gema Mathla’ul Anwar […]

expand_less