Breaking News
light_mode

Kontroversi Lilis dan ‘Tete Momo’: Sosiolog Maluku Soroti Gap Literasi Budaya Gen Z

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
  • visibility 303
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ambon,Tajukmaluku.com-Pernyataan kontroversial Lilis, yang menyebut patung Pahlawan Nasional Dr. Johanes Leimena sebagai “Tete Momo” memicu perbincangan di kalangan warga net Maluku. Istilah “Tete Momo” sendiri merupakan istilah lokal yang memiliki konotasi negatif sebagai sebutan untuk hantu atau momok dalam tradisi budaya Maluku. Ucapan lilis itu pun ditanggapi Sosiolog Maluku DR. A. Manaf Tubaka.

Sebutan ‘Tete Momo’ dalam konteks budaya lokal memang mengacu pada sesuatu yang bersifat negatif, seperti hantu atau momok. Namun, ada sisi lain yang dapat dimaknai secara figuratif sebagai kritik terhadap sesuatu yang dianggap berlebihan,” ujar Tubaka

Namun, dalam konteks penyebutan terhadap patung Pahlawan Nasional Dr. Johanes Leimena, Tubaka menilai tindakan Lilis sebagai “out of context”. “Sebagai konten kreator, seharusnya ia lebih hati-hati. Sebutan ini tidak mendidik, tidak bernilai edukatif, dan justru menghilangkan nilai estetik. Lebih parah lagi, ini menunjukkan kurangnya pemahaman tentang pentingnya menghormati tokoh nasional,” tegasnya.

Dosen Pascasarjana Prodi Sosiologi Agama IAIN Ambon ini juga menyoroti gap literasi budaya yang masih menjadi persoalan di kalangan Generasi Z (Gen Z). Menurutnya, kejadian ini bisa menjadi momen reflektif bagi generasi muda untuk memahami bahwa pahlawan nasional seperti Dr. Johanes Leimena adalah sosok yang memiliki kontribusi besar bagi bangsa. “Kejadian ini membuka pintu bagi upaya meningkatkan literasi budaya. Generasi muda harus belajar bahwa tokoh nasional bukanlah objek sembarangan untuk candaan atau lelucon,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ketua ICMI Orda Kota Ambon ini juga menyebut penggunaan istilah “Tete Momo” terhadap pahlawan nasional tidak hanya melukai sensitivitas budaya masyarakat Maluku, tetapi juga menciptakan reaksi tajam dari berbagai kalangan. “Lilis harusnya menyadari bahwa istilah ini punya arti khusus dalam ingatan kolektif masyarakat Maluku. Ketika istilah itu disematkan pada tokoh nasional, wajar jika banyak pihak merasa tersinggung,” ujarnya.

Kontroversi ini, menurut Tubaka, seharusnya menjadi pembelajaran bagi para konten kreator untuk lebih peka terhadap nilai-nilai budaya dan sejarah, terutama dalam membahas figur publik yang memiliki makna mendalam bagi bangsa. “Kritik dan kreativitas itu penting, tetapi harus dilakukan dengan menghormati konteks dan nilai-nilai yang ada,” tutupnya.*Redaksi

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN dan Polresta Ternate Perkuat Koordinasi Pengamanan Jelang Ternate Electric Run 2025

    PLN dan Polresta Ternate Perkuat Koordinasi Pengamanan Jelang Ternate Electric Run 2025

    • calendar_month Minggu, 14 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-Menjelang pelaksanaan Ternate Electric Run 2025, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ternate memperkuat sinergi dengan Kepolisian Resor (Polresta) setempat. Hal itu dilakukan untuk memastikan keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung, pada Minggu, 14 September 2025. Dalam kunjungan silaturahmi ke Mapolresta Ternate, jajaran […]

  • HMI Sejajaran Unpatti Desak Percepat Penanganan Kasus Penyerangan di Lingkungan FEB hingga Penikaman

    HMI Sejajaran Unpatti Desak Percepat Penanganan Kasus Penyerangan di Lingkungan FEB hingga Penikaman

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejajaran Universitas Pattimura (Unpatti) mendesak percepat penanganan kasus penyerangan di lingkungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) hingga berujung penikaman terhadap M. Datu Letsoin, mahasiswa semester 8. Desakan itu disampaikan lewat aksi demonstrasi yang digelar, Selasa (3/3/2026). Aksi dimulai dari FEB sebagai titik awal penyampaian aspirasi. Massa aksi menilai fakultas merupakan ruang […]

  • Jaga Kelestarian Budaya, Wadir LPHI Dorong DPRD Bursel Bentuk Perda Adat

    Jaga Kelestarian Budaya, Wadir LPHI Dorong DPRD Bursel Bentuk Perda Adat

    • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Wakil Direktur Lembaga Pengawasan Hukum Indonesia (LPHI), Saputra Belassa mendorong Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buru Selatan untuk membentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang adat. Keberadaan Perda tersebut lanjutnya, untuk menjaga hak masyarakat adat dan kelestarian budaya. Selain itu, tujuan pembentukan Perda tentang adat adalah sebagai alat perlindungan masyarakat adat untuk menjaga hak-haknya. Kemudian, pelestarian […]

  • DPRD Maluku Bakal Kawal Permintaan Pembangunan SMA Negeri di Kairatu Barat

    DPRD Maluku Bakal Kawal Permintaan Pembangunan SMA Negeri di Kairatu Barat

    • calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemerintah negeri Nuruwe, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Provinsi Maluku, tengah mendorong pembangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri sebagai respon atas meningkatnya kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut. Menurut Anggota DPRD Provinsi Maluku Komisi IV, Julius Rutasouw, meskipun sarana pendidikan menengah atas di Kecamatan Kairatu saat ini sudah ada, namun pertumbuhan penduduk yang […]

  • Hijau, Kuasa, dan Kekerasan yang Disamarkan

    Hijau, Kuasa, dan Kekerasan yang Disamarkan

    • calendar_month Kamis, 19 Jun 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    SEJAK kecil, Beta sudah akrab dengan warna-warni yang berserakan di lantai rumah. Warna kain yang menggantung di sudut, sisa-sisa benang jahit yang beterbangan, dan pola-pola motif yang tak pernah sama. Beta pung Mama seorang tukang jahit, dan dari tangan antua-lah warna-warna itu menjelma menjadi pakaian, taplak, atau baju seragam. Di Mama punya ruang kerja, warna […]

  • Situasi Global Kian Tak Menentu, Engelina Pattiasina Ingatkan Warga Maluku Perkuat Pangan Lokal

    Situasi Global Kian Tak Menentu, Engelina Pattiasina Ingatkan Warga Maluku Perkuat Pangan Lokal

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Tokoh senior Maluku, Dipl.-Oek. Engelina Pattiasina mengingatkan agar Maluku dan berbagai wilayah di Kawasan timur memperkuat pangan lokal. Hal itu untuk mengantisipasi situasi global yang tidak menentu dan sangat berisiko menuju Perang Dunia III. “Perkembangan dunia sangat mengkhawatirkan seolah hanya dihadapkan kepada dua pilihan perang atau diplomasi. Idealnya memang diplomasi, tetapi sangat disayangkan karena kepercayaan […]

expand_less