Breaking News
light_mode

Pesantren Sebagai Benteng Nasionalisme Bangsa

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 728
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Masyhuri Maswatu

(Wasekjen Pimpinan Pusat GP ANSOR)

Tajukmaluku.com-Sejarah pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang telah berdiri sejak lama. Pesantren adalah lembaga pendidikan khas di Nusantara, berakar dari tradisi Islam yang berkembang di Nusantara sejak abad ke-13.

Ketika Islam mulai menyebar melalui jalur perdagangan, dakwah, dan asimilasi budaya lokal. Pesantren bukan hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat dan pergerakan sosial.

Pada masa kolonial, pesantren memainkan peran strategis dalam melestarikan ajaran Islam dan budaya lokal di tengah upaya Belanda memperkenalkan sistem pendidikan Barat. Pendidikan di pesantren tidak hanya fokus pada ilmu- ilmu agama seperti tafsir, hadis, fiqh, dan tasawuf, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan semangat kemandirian di kalangan santri (murid). Selain itu, pesantren turut mencetak tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Secara historis tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren yang merupakan warisan berharga dari Wali Songo, yang kemudian dilanjutkan oleh para kyai Nahdliyin. Sampai saat ini, kian “mendarah daging” dan memiliki peranan penting dalam pembentukan sikap keagamaan masyarakat yang multikultur. Sehingga outputnya bisa melahirkan generasi yang ikut serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari ragam suku, agama, budaya, dan bahasa. Dengan demikian, sebagaimana yang diungkapkan oleh Nurcholish Madjid, pesantren yang ada di Nusantara, tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).

Lebih jauh lagi, eksistensi dan kiprah pesantren di Indonesia telah diakui di panggung nasional, pesantren telah mampu mencetak generasi yang turut serta membangun kemajuan dan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) adalah sebagai bukti dan isyarat (sign) secara formal dan nasional bahwa pesantren itu ada dan kedudukannya sehingga kontribusi pesantren di Indonesia telah melintasi batas-batas ruang sosial dan keagamaan.

Pesantren tidak hanya mengurusi ruang ritual keagamaan semata, lebih dari itu mampu mengambil peran penting untuk senantiasa merawat tanah air, agar tidak terus menerus dieksploitasi orang-orang asing dari dari serangan pribumi yang hendak menghancurkan kebhinekaan.

Dengan demikian, pandangan fungsi pesantren jangan hanya berkutat di transmisi-transfer ilmu-ilmu Islam, pemeliharaan tradisi Islam, dan reproduksi ulama semata, sudah terjawab oleh fakta yang menunjukkan bahwa pesantren mampu bersaing dan berkontribusi secara lebih luas.

Pesantren dalam Membangun Moralitas Nasionalisme Bangsa

Membangun karakter bangsa merupakan hal penting dan mendesak untuk dilakukan. Setidaknya ada tiga alasan yang menjadikan tindakan membangun karakter bangsa menjadi penting. Pertama, Bangsa Indonesia telah mengalami babak perkembangan yang dipengaruhi oleh kehidupan global dan dikenal dengan era disrupsi yang sangat berpengaruh pada tatanan kehidupan masyarakat. Kedua, dari sisi mentalitas, bangsa Indonesia masih perlu membenahi diri. Ketiga, secara bersamaan, bangsa ini memasuki era informasi sekaligus era reformasi.

Era ini membawa perubahan yang sangat drastis pada atmosfer politik bangsa dengan kebebasan berpendapat yang jauh berbeda dengan era sebelumnya. Kemudian pesantren digunakan sebagai pemersatu dan memperkuat rasa nasionalisme dan kebangsaan. Adanya penerapan Full Day School (FDS) yang saat ini sedang digembor-gemborkan pemerintah merupakan sumber acuan dari penerapan pendidikan pesantren.

Jika FDS sedang marak digencarkan sebagai perbaikan sistem pendidikan nasional di Indonesia, maka pesantren telah menerapkannya lebih dulu hingga sekarang. Bahkan dalam pembelajaran di pesantren, para santri tidak hanya mengikuti full day school bahkan juga pada waktu malam, dengan syarat para santri harus bermukim atau bertempat tinggal di pesantren tersebut.

Selaras dengan kemajuan globalisasi dan teknologi informasi yang bertambah pesat hingga saat ini, semakin pudar pula identitas bangsa, karakter, dan nilai-nilai ke-Indonesiaan, seperti sopan santun, optimisme, kerja keras, gotong royong, bahkan prinsip-prinsip toleransi sesama manusia. Hal ini disebabkan tidak adanya filterisasi berita yang masuk karena kemajuan teknologi informasi melalui media-media sosial yang tersebar.

Dengan demikian, pola pendidikan pesantren dianggap mampu digunakan sebagai kiblat pendidikan alternatif, maka sudah semestinya berkembang dan tetap memberikan harapan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena pola pendidikan pesantren masih mengadopsi tradisi pendidikan tradisional khas Indonesia, sehingga terdapat nilai-nilai karakter yang terbangun dari model pembelajarannya serta nilai keikhlasan dari pendidik dan juga peserta didik. Hal ini dapat dijadikan dasar dalam menepis anggapan bahwa pesantren sebagai agen penularan radikalisme dan terorisme.

Kekayaan terbesar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak hanya terbatas pada keindahan alam dan masyarakatnya yang dikenal sopan santun serta menjunjung tinggi adat ketimuran, akan tetapi memiliki kekayaan budaya yang khas, yaitu pesantren itu sendiri. Sehingga, pesantren khas Islam Indonesia tidak akan ditemukan di negara-negara manapun, termasuk negara-negara yang mayoritas muslim sekalipun. Oleh karena itu, tradisi yang ada di dalam pesantren tersebut wajib dikembangkan demi terciptanya masyarakat yang beradab.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mikroalga: Pahlawan Sunyi Penyelamat Bumi dari Krisis Iklim dan Kerusakan Lingkungan

    Mikroalga: Pahlawan Sunyi Penyelamat Bumi dari Krisis Iklim dan Kerusakan Lingkungan

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Tri Santi Kurnia (Mahasiswa S3 Biologi UGM || Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon) Tajukmaluku.com-Selama ini kita terlalu sering memusatkan perhatian pada hutan ketika berbicara tentang paru-paru dunia. Kita menanam pohon, mengkampanyekan reboisasi, dan mengkritik deforestasi. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu “pahlawan” lain yang luput dari perhatian publik yakni Mikroalga—organisme mikroskopis yang […]

  • Rovik Soroti Manajemen RSUP Leimena, Minta Direktur Dicopot

    Rovik Soroti Manajemen RSUP Leimena, Minta Direktur Dicopot

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pelayanan Rumah Sakit Umum Pratama (RSUP) Dr. Leimena di Rumah Tiga, Kota Ambon, Provinsi Maluku kembali menuai kritikan. RSUP yang mestinya sebagai ujung tombak penyelesaian kondisi darurat kesehatan bagi masyarakat di Provinsi Maluku ini, justeru malah mengabaikan kemanusian sebagai hal paling fundamental dalam dunia medis. Fenomena pelayanan tenaga kedokteran dan nakes di RSUP Leimena seperti […]

  • Pesan Menteri Nusron untuk 568 Wisudawan/Wisudawati Politeknik Agraria STPN: Jaga Integritas di Mana pun Bekerja

    Pesan Menteri Nusron untuk 568 Wisudawan/Wisudawati Politeknik Agraria STPN: Jaga Integritas di Mana pun Bekerja

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Sleman,Tajukmaluku.com-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mewisuda 568 Taruna/i Politeknik Agraria STPN Program Studi Sarjana Terapan Pertanahan Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (05/09/2026). Dalam sambutannya, Menteri Nusron mengingatkan untuk selalu menjaga integritas dan menggunakan ilmu yang diperoleh selama pendidikan dalam pelaksanaan tugas serta pengabdian kepada masyarakat. “Di mana pun Saudara […]

  • Konferda VI PDIP Maluku, Hasto Bakal Datang Bawa Pesan Megawati

    Konferda VI PDIP Maluku, Hasto Bakal Datang Bawa Pesan Megawati

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Setelah sepuluh tahun, PDI Perjuangan kembali menggelar Konferensi Daerah (Konferda) ke-VI Maluku, bersamaan dengan Konferensi Cabang gabungan tiga daerah: Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat, dan Maluku Tengah. Forum politik lima tahunan ini dijadwalkan berlangsung di Ballroom Hotel Santika, Ambon, Minggu 2/11/2025, dan bakal dihadiri langsung Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Konferda kali ini […]

  • Hattrick! Dirut PLN Darmawan Prasodjo Kembali Dinobatkan Jadi CEO Of The Year 2024

    Hattrick! Dirut PLN Darmawan Prasodjo Kembali Dinobatkan Jadi CEO Of The Year 2024

    • calendar_month Kamis, 12 Des 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo kembali dinobatkan sebagai CEO of The Year untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak 2022. Darmawan terpilih di antara CEO terbaik dari berbagai perusahaan swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di ajang CNBC Indonesia Awards 2024 pada Rabu (11/12). Penghargaan tertinggi dalam kategori CEO ini diraih atas kepiawaiannya […]

  • AP2RM Soroti Dugaan 13 Transaksi Disdikbud Maluku Tanpa SPJ

    AP2RM Soroti Dugaan 13 Transaksi Disdikbud Maluku Tanpa SPJ

    • calendar_month Kamis, 21 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Aliansi Pemuda Pemerhati Rakyat Maluku (AP2RM) soroti praktik pengelolaan anggaran di lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Maluku tahun 2025. Hal ini menyusul beredarnya dokumen pencairan dana senilai Rp9,2 miliar melalui 13 kali transaksi dari Januari hingga Juli 2025 yang disebut belum dilengkapi Surat Pertanggungjawaban (SPJ). Fungsionaris AP2RM, Muttaqien Heluth, menegaskan bahwa praktik pencairan […]

expand_less