Breaking News
light_mode

Pesantren Sebagai Benteng Nasionalisme Bangsa

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 625
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Masyhuri Maswatu

(Wasekjen Pimpinan Pusat GP ANSOR)

Tajukmaluku.com-Sejarah pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang telah berdiri sejak lama. Pesantren adalah lembaga pendidikan khas di Nusantara, berakar dari tradisi Islam yang berkembang di Nusantara sejak abad ke-13.

Ketika Islam mulai menyebar melalui jalur perdagangan, dakwah, dan asimilasi budaya lokal. Pesantren bukan hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat dan pergerakan sosial.

Pada masa kolonial, pesantren memainkan peran strategis dalam melestarikan ajaran Islam dan budaya lokal di tengah upaya Belanda memperkenalkan sistem pendidikan Barat. Pendidikan di pesantren tidak hanya fokus pada ilmu- ilmu agama seperti tafsir, hadis, fiqh, dan tasawuf, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan semangat kemandirian di kalangan santri (murid). Selain itu, pesantren turut mencetak tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Secara historis tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren yang merupakan warisan berharga dari Wali Songo, yang kemudian dilanjutkan oleh para kyai Nahdliyin. Sampai saat ini, kian “mendarah daging” dan memiliki peranan penting dalam pembentukan sikap keagamaan masyarakat yang multikultur. Sehingga outputnya bisa melahirkan generasi yang ikut serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari ragam suku, agama, budaya, dan bahasa. Dengan demikian, sebagaimana yang diungkapkan oleh Nurcholish Madjid, pesantren yang ada di Nusantara, tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).

Lebih jauh lagi, eksistensi dan kiprah pesantren di Indonesia telah diakui di panggung nasional, pesantren telah mampu mencetak generasi yang turut serta membangun kemajuan dan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) adalah sebagai bukti dan isyarat (sign) secara formal dan nasional bahwa pesantren itu ada dan kedudukannya sehingga kontribusi pesantren di Indonesia telah melintasi batas-batas ruang sosial dan keagamaan.

Pesantren tidak hanya mengurusi ruang ritual keagamaan semata, lebih dari itu mampu mengambil peran penting untuk senantiasa merawat tanah air, agar tidak terus menerus dieksploitasi orang-orang asing dari dari serangan pribumi yang hendak menghancurkan kebhinekaan.

Dengan demikian, pandangan fungsi pesantren jangan hanya berkutat di transmisi-transfer ilmu-ilmu Islam, pemeliharaan tradisi Islam, dan reproduksi ulama semata, sudah terjawab oleh fakta yang menunjukkan bahwa pesantren mampu bersaing dan berkontribusi secara lebih luas.

Pesantren dalam Membangun Moralitas Nasionalisme Bangsa

Membangun karakter bangsa merupakan hal penting dan mendesak untuk dilakukan. Setidaknya ada tiga alasan yang menjadikan tindakan membangun karakter bangsa menjadi penting. Pertama, Bangsa Indonesia telah mengalami babak perkembangan yang dipengaruhi oleh kehidupan global dan dikenal dengan era disrupsi yang sangat berpengaruh pada tatanan kehidupan masyarakat. Kedua, dari sisi mentalitas, bangsa Indonesia masih perlu membenahi diri. Ketiga, secara bersamaan, bangsa ini memasuki era informasi sekaligus era reformasi.

Era ini membawa perubahan yang sangat drastis pada atmosfer politik bangsa dengan kebebasan berpendapat yang jauh berbeda dengan era sebelumnya. Kemudian pesantren digunakan sebagai pemersatu dan memperkuat rasa nasionalisme dan kebangsaan. Adanya penerapan Full Day School (FDS) yang saat ini sedang digembor-gemborkan pemerintah merupakan sumber acuan dari penerapan pendidikan pesantren.

Jika FDS sedang marak digencarkan sebagai perbaikan sistem pendidikan nasional di Indonesia, maka pesantren telah menerapkannya lebih dulu hingga sekarang. Bahkan dalam pembelajaran di pesantren, para santri tidak hanya mengikuti full day school bahkan juga pada waktu malam, dengan syarat para santri harus bermukim atau bertempat tinggal di pesantren tersebut.

Selaras dengan kemajuan globalisasi dan teknologi informasi yang bertambah pesat hingga saat ini, semakin pudar pula identitas bangsa, karakter, dan nilai-nilai ke-Indonesiaan, seperti sopan santun, optimisme, kerja keras, gotong royong, bahkan prinsip-prinsip toleransi sesama manusia. Hal ini disebabkan tidak adanya filterisasi berita yang masuk karena kemajuan teknologi informasi melalui media-media sosial yang tersebar.

Dengan demikian, pola pendidikan pesantren dianggap mampu digunakan sebagai kiblat pendidikan alternatif, maka sudah semestinya berkembang dan tetap memberikan harapan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena pola pendidikan pesantren masih mengadopsi tradisi pendidikan tradisional khas Indonesia, sehingga terdapat nilai-nilai karakter yang terbangun dari model pembelajarannya serta nilai keikhlasan dari pendidik dan juga peserta didik. Hal ini dapat dijadikan dasar dalam menepis anggapan bahwa pesantren sebagai agen penularan radikalisme dan terorisme.

Kekayaan terbesar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak hanya terbatas pada keindahan alam dan masyarakatnya yang dikenal sopan santun serta menjunjung tinggi adat ketimuran, akan tetapi memiliki kekayaan budaya yang khas, yaitu pesantren itu sendiri. Sehingga, pesantren khas Islam Indonesia tidak akan ditemukan di negara-negara manapun, termasuk negara-negara yang mayoritas muslim sekalipun. Oleh karena itu, tradisi yang ada di dalam pesantren tersebut wajib dikembangkan demi terciptanya masyarakat yang beradab.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pukat Seram Kuatir Kasus Proyek Jalan Besi “Menguap” di Kejaksaan

    Pukat Seram Kuatir Kasus Proyek Jalan Besi “Menguap” di Kejaksaan

    • calendar_month Kamis, 8 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Upaya penyidik Kejakasaan Tinggi Maluku membongkar dugaan praktek korup dalam proyek peningkatan jalan ruas SP Lintas Seram-Besi Jalur 2 (hotmix) tak lagi bergema. Padahal di tahun lalu, pihak Kejaksaan Tinggi Maluku bergeming kasus ini tetap berjalan, dan sementara menunggu perhitungan dari lembaga auditor negara. “Belum ada tersangka. Kasusnya jalan. Sedang menunggu hasil kompensasi kerugian keuangan […]

  • Saat “Ditekan Wagub”, Kadis Yahya Ngeluh: Saya Ibarat Kipas Angin

    Saat “Ditekan Wagub”, Kadis Yahya Ngeluh: Saya Ibarat Kipas Angin

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku, Yahya Kota, mengaku tak mampu berbuat banyak ketika diminta oleh Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath untuk mengganti pengelola jasa parkir di Pasar Mardika, Kota Ambon. “Dia (Kadis) bilang dia seperti kipas angin saja, diremot. Saat disuruh berhenti, berhenti,” kata Yahya dalam pertemuan bersama manajemen CV. Rumbia Perkasa, […]

  • Penyidik Polres Buru Limpahkan Tersangka PETI ke Jaksa

    Penyidik Polres Buru Limpahkan Tersangka PETI ke Jaksa

    • calendar_month Selasa, 25 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Penyidik Satreskrim Polres Buru melakukan tahap 2 atau penyerahan Tersangka Penambang Emas Tanpa Ijin (PETI) bersama berkas perkara dan barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kejaksaan Negeri Buru. Tersangka yang dilimpahkan ke JPU adalah berinisial BM alias Buhari. Ia diserahkan setelah berkas perkaranya dinyatakan lengkap atau P21 berdasarkan Surat Kejaksaan Negeri Buru Nomor : […]

  • Kandidat Pilkada SBT Diminta Jangan Gaduh, Hormati Proses Real Count KPU

    Kandidat Pilkada SBT Diminta Jangan Gaduh, Hormati Proses Real Count KPU

    • calendar_month Jumat, 29 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Seram Bagian Timur (SBT) 2024-2029 menjadi momen penting bagi masyarakat dalam menentukan arah pembangunan lima tahun ke depan. Namun, atmosfer politik yang memanas akibat klaim kemenangan sepihak oleh kandidat dan tim pemenangan mulai memicu kegaduhan yang berpotensi merusak harmoni masyarakat. Poyo Sohilauw, Formature Ketua Umum BADKO HMI Maluku, dalam […]

  • BPJN Maluku Fokus Percepat Pembangunan Jalan Kota Baru – Air Nanang Pulau Seram

    BPJN Maluku Fokus Percepat Pembangunan Jalan Kota Baru – Air Nanang Pulau Seram

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku fokus mempercepat pengerjaan proyek strategis nasional yakni pembangunan jalan yang menghubungkan Kota Baru menuju Air nanang di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Prioritas utama proyek BPJN Maluku itu guna memutus rantai isolasi di wilayah pesisir tersebut. Kepala Satuan Kerja (Kasatker) PJN Wilayah II Provinsi Maluku, Toce Leuwol menyatakan bahwa […]

  • Ngeri Betul ! Istri Ketua KPU SBT Bolos 12 Tahun, Malah Diangkat Jadi Kepala Puskesmas

    Ngeri Betul ! Istri Ketua KPU SBT Bolos 12 Tahun, Malah Diangkat Jadi Kepala Puskesmas

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Di Kabupaten Seram Bagian Timur, promosi jabatan rupanya tak selalu ditentukan oleh kinerja, prestasi, atau disiplin. Kadang cukup dengan status sebagai “orang dalam.” Promosi Siti Juleha Sewhaki, istri Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) SBT, menguak adanya dugaan jalinan relasi kuasa. Siti Juleha diangkat menjadi Kepala Puskesmas Airkasar Tutuk Tolo, meski ia disebut-sebut absen bertugas lebih […]

expand_less