Breaking News
light_mode

Pesantren Sebagai Benteng Nasionalisme Bangsa

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 648
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Masyhuri Maswatu

(Wasekjen Pimpinan Pusat GP ANSOR)

Tajukmaluku.com-Sejarah pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang telah berdiri sejak lama. Pesantren adalah lembaga pendidikan khas di Nusantara, berakar dari tradisi Islam yang berkembang di Nusantara sejak abad ke-13.

Ketika Islam mulai menyebar melalui jalur perdagangan, dakwah, dan asimilasi budaya lokal. Pesantren bukan hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat dan pergerakan sosial.

Pada masa kolonial, pesantren memainkan peran strategis dalam melestarikan ajaran Islam dan budaya lokal di tengah upaya Belanda memperkenalkan sistem pendidikan Barat. Pendidikan di pesantren tidak hanya fokus pada ilmu- ilmu agama seperti tafsir, hadis, fiqh, dan tasawuf, tetapi juga membentuk karakter, etika, dan semangat kemandirian di kalangan santri (murid). Selain itu, pesantren turut mencetak tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Secara historis tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren yang merupakan warisan berharga dari Wali Songo, yang kemudian dilanjutkan oleh para kyai Nahdliyin. Sampai saat ini, kian “mendarah daging” dan memiliki peranan penting dalam pembentukan sikap keagamaan masyarakat yang multikultur. Sehingga outputnya bisa melahirkan generasi yang ikut serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari ragam suku, agama, budaya, dan bahasa. Dengan demikian, sebagaimana yang diungkapkan oleh Nurcholish Madjid, pesantren yang ada di Nusantara, tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).

Lebih jauh lagi, eksistensi dan kiprah pesantren di Indonesia telah diakui di panggung nasional, pesantren telah mampu mencetak generasi yang turut serta membangun kemajuan dan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) adalah sebagai bukti dan isyarat (sign) secara formal dan nasional bahwa pesantren itu ada dan kedudukannya sehingga kontribusi pesantren di Indonesia telah melintasi batas-batas ruang sosial dan keagamaan.

Pesantren tidak hanya mengurusi ruang ritual keagamaan semata, lebih dari itu mampu mengambil peran penting untuk senantiasa merawat tanah air, agar tidak terus menerus dieksploitasi orang-orang asing dari dari serangan pribumi yang hendak menghancurkan kebhinekaan.

Dengan demikian, pandangan fungsi pesantren jangan hanya berkutat di transmisi-transfer ilmu-ilmu Islam, pemeliharaan tradisi Islam, dan reproduksi ulama semata, sudah terjawab oleh fakta yang menunjukkan bahwa pesantren mampu bersaing dan berkontribusi secara lebih luas.

Pesantren dalam Membangun Moralitas Nasionalisme Bangsa

Membangun karakter bangsa merupakan hal penting dan mendesak untuk dilakukan. Setidaknya ada tiga alasan yang menjadikan tindakan membangun karakter bangsa menjadi penting. Pertama, Bangsa Indonesia telah mengalami babak perkembangan yang dipengaruhi oleh kehidupan global dan dikenal dengan era disrupsi yang sangat berpengaruh pada tatanan kehidupan masyarakat. Kedua, dari sisi mentalitas, bangsa Indonesia masih perlu membenahi diri. Ketiga, secara bersamaan, bangsa ini memasuki era informasi sekaligus era reformasi.

Era ini membawa perubahan yang sangat drastis pada atmosfer politik bangsa dengan kebebasan berpendapat yang jauh berbeda dengan era sebelumnya. Kemudian pesantren digunakan sebagai pemersatu dan memperkuat rasa nasionalisme dan kebangsaan. Adanya penerapan Full Day School (FDS) yang saat ini sedang digembor-gemborkan pemerintah merupakan sumber acuan dari penerapan pendidikan pesantren.

Jika FDS sedang marak digencarkan sebagai perbaikan sistem pendidikan nasional di Indonesia, maka pesantren telah menerapkannya lebih dulu hingga sekarang. Bahkan dalam pembelajaran di pesantren, para santri tidak hanya mengikuti full day school bahkan juga pada waktu malam, dengan syarat para santri harus bermukim atau bertempat tinggal di pesantren tersebut.

Selaras dengan kemajuan globalisasi dan teknologi informasi yang bertambah pesat hingga saat ini, semakin pudar pula identitas bangsa, karakter, dan nilai-nilai ke-Indonesiaan, seperti sopan santun, optimisme, kerja keras, gotong royong, bahkan prinsip-prinsip toleransi sesama manusia. Hal ini disebabkan tidak adanya filterisasi berita yang masuk karena kemajuan teknologi informasi melalui media-media sosial yang tersebar.

Dengan demikian, pola pendidikan pesantren dianggap mampu digunakan sebagai kiblat pendidikan alternatif, maka sudah semestinya berkembang dan tetap memberikan harapan bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Karena pola pendidikan pesantren masih mengadopsi tradisi pendidikan tradisional khas Indonesia, sehingga terdapat nilai-nilai karakter yang terbangun dari model pembelajarannya serta nilai keikhlasan dari pendidik dan juga peserta didik. Hal ini dapat dijadikan dasar dalam menepis anggapan bahwa pesantren sebagai agen penularan radikalisme dan terorisme.

Kekayaan terbesar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tidak hanya terbatas pada keindahan alam dan masyarakatnya yang dikenal sopan santun serta menjunjung tinggi adat ketimuran, akan tetapi memiliki kekayaan budaya yang khas, yaitu pesantren itu sendiri. Sehingga, pesantren khas Islam Indonesia tidak akan ditemukan di negara-negara manapun, termasuk negara-negara yang mayoritas muslim sekalipun. Oleh karena itu, tradisi yang ada di dalam pesantren tersebut wajib dikembangkan demi terciptanya masyarakat yang beradab.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Natal dan Tahun Baru Pemuda Muslim Air Salobar Ambon Komitmen Jaga Kondusifitas Kamtibmas

    Jelang Natal dan Tahun Baru Pemuda Muslim Air Salobar Ambon Komitmen Jaga Kondusifitas Kamtibmas

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemuda Muslim Air Salobar menyatakan komitmen kuat untuk menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Komitmen tersebut ditegaskan sebagai bentuk tanggung jawab moral pemuda dalam menjaga kedamaian, persatuan, dan kerukunan antarumat beragama di Kota Ambon. Pernyataan sikap ini disampaikan sebagai respons atas meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang akhir […]

  • KH. M. Asyari Papalia (1902-1986)

    KH. M. Asyari Papalia (1902-1986)

    • calendar_month Minggu, 13 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Fajrin Hamid Bagi sebagian masyarakat kota Ambon tidak akan asing dengan nama Kiyai Asyari, imam masjid raya Alfatah kota ambon, terutama bagi mereka yang pernah merasakan suasana Kota Ambon di tahun 70an hingga tahun 80an. Kiyai Asyari atau Imam Asyari begitu sapaan warga kota ambon, ia adalah ulama Buton asal Kampung Papalia, Pulau Binongko. […]

  • DPRD Maluku Jadwalkan Rapat dengan BPJN Usai Demo Soal Temuan BPK

    DPRD Maluku Jadwalkan Rapat dengan BPJN Usai Demo Soal Temuan BPK

    • calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku merespons cepat tuntutan masa aksi LSM Koalisi Aktivis Anti Korupsi (KAAKI) Maluku terkait Temuan LHP Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK ) Tahun 2022 dan Semester 1 TA 2023. Komisi III lewat Richad Rahakbauw yang menemui masa aksi di ruang rapat Komisi IV menyampaikan dengan tegas akan berkoordinasi dan […]

  • Hari Pelanggan Nasional 2025, PLN UIW MMU Komitmen Terangi hingga Pelosok Maluku

    Hari Pelanggan Nasional 2025, PLN UIW MMU Komitmen Terangi hingga Pelosok Maluku

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku-Maluku Utara komitmen menghadirkan listrik andal hingga ke pelosok Maluku. Hal itu disampaikan dalam acara Peringatan Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2025 yang diselenggarakan di area Pattimura Park. Dalam kegiatan itu, PLN menunjukkan capaian mereka diantaranya 50 sistem kelistrikan sudah beroperasi 24 jam, 1.780 keluarga prasejahtera menikmati listrik gratis, dan layanan PLN […]

  • Komisi III Desak Pemprov Naikkan Status Siaga Bencana

    Komisi III Desak Pemprov Naikkan Status Siaga Bencana

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi III DPRD Maluku mendesak Pemerintah Provinsi segera meningkatkan status siaga bencana, menyusul serangkaian peristiwa alam yang terjadi di awal musim timur. Salah satu bencana longsor bahkan telah merenggut korban jiwa dan merobohkan rumah warga. Anggota Komisi III DPRD Maluku, Alan Lohy, mengatakan peningkatan status siaga menjadi penting untuk mempercepat koordinasi lintas sektor serta memperjelas […]

  • PT SIM dan “Peta Konflik” Tak Berujung

    PT SIM dan “Peta Konflik” Tak Berujung

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sejak pertama kali masuk Maluku pada 2018, PT Spice Islands Maluku (PT SIM) perusahaan produksi pisang abaka ini memegang SKT untuk ribuan hektar lahan di Hatusuwa. Namun, alih-alih mengoptimalkan izin itu, PT SIM justru memilih melirik wilayah lain. Hatusuwa ditinggalkan, optimalisasi ribuan hektar tanpa laporan bulanan maupun tahunan kepada Pemerintah Daerah Seram Bagian Barat (SBB) […]

expand_less