Diskusi Regional Office Mata Garuda LPDP, Tenaga Ahli Menteri ESDM Soroti Pengembangan Blok Masela
- account_circle Admin
- calendar_month 3 menit yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Regional office Mata Garuda LPDP gelar silahturahmi dan diskusi bersama dengan Satya Hangga Yudha Tenaga Ahli Menteri ESDM RI yang dilaksanakan secara daring pada Jumat, 10 April 2026 yang dihadiri puluhan Alumni dan Awardee penerima beasiswa LPDP wilayah afirmasi Indonesia timur.
Amrullah Usemahu selaku chief of regional office mata garuda dalam arahan pembuka menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan selain untuk memperkuat tali silahturahmi lintas alumni awardee LPDP namun juga mengupdate informasi terkini berkaitan dengan arah dan kebijakan kementerian ESDM terkait sektor pertambangan di Indonesia timur salah satunya Blok Masela.
Kebetulan yang hadir dalam kegiatan ini didominasi oleh teman-teman Mata Garuda Maluku dan secara internal telah banyak berdiskusi serta ingin turut serta mengambil peran dan memberikan kontribusi dengan lintas keilmuan yang dimiliki selama mengenyam pendidikan S2/S3 di dalam dan luar negeri agar dapat bermanfaat nantinya saat pembangunan Blok Masela direalisasikan.
“Sebagai anak Maluku pastinya, kami harus memberikan dampak positif bagi Maluku dengan Keilmuan yang dimiliki,” ungkap Usemahu.
Usemahu berharap silahturahmi dan diskusi yang dilaksanakan ini dapat memberikan saran dan masukan serta menghasilkan poin rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti bersama serta menjadi bahan masukan secara internal sebagai bahan kajian Mata Garuda juga kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan percepatan pengembangan Blok Masela sangat penting ditengah dinamika geopolitik global turut memberikan dampak terhadap sektor energi, khususnya dalam hal fluktuasi harga minyak dan LNG, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Oleh karena itu, keberadaan proyek seperti Blok Masela menjadi semakin strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Hangga menambahkan saat harga minyak menyentuh 110 dolar AS per barel, ketergantungan pada impor meskipun sumbernya telah didiversifikasi ke Amerika Serikat, Afrika, hingga Australia, tetap memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan.
Dalam aspek komersialisasi, skema pengelolaan produksi LNG direncanakan dengan komposisi 60% untuk ekspor dan 40% untuk kebutuhan domestik, dengan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Proyek ini menunjukkan kemajuan signifikan dengan telah ditandatanganinya MoU antara Inpex dan PT Pertamina (Persero) pada 30 Maret 2026.
“Saat ini, SKK Migas tengah mengawal negosiasi intensif pembelian LNG sebagai syarat mutlak bagi perusahaan untuk mencapai final investment decision (FID). Sebut hangga.
Semwntara jika diliat dari sisi manfaat untuk daerah, proyek ini diharapkan memberikan kontribusi nyata melalui skema Participating Interest (PI) sebesar 10% untuk daerah, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat lokal.
Selain itu, proyek ini juga diharapkan mampu menciptakan multiplier effect ekonomi yang luas bagi wilayah sekitar.
“Dan sebagai bentuk komitmen pemerintah, pengembangan Blok Masela terus dikawal secara intensif melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, dengan fokus utama pada hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Mantan Sekjen Mata Garuda LPDP yang juga alumni New York University ini.*(01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar