Breaking News
light_mode

Mikroalga: Pahlawan Sunyi Penyelamat Bumi dari Krisis Iklim dan Kerusakan Lingkungan

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • visibility 255
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Tri Santi Kurnia

(Mahasiswa S3 Biologi UGM || Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon)

Tajukmaluku.com-Selama ini kita terlalu sering memusatkan perhatian pada hutan ketika berbicara tentang paru-paru dunia. Kita menanam pohon, mengkampanyekan reboisasi, dan mengkritik deforestasi. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu “pahlawan” lain yang luput dari perhatian publik yakni Mikroalga—organisme mikroskopis yang justru bekerja tanpa henti di wilayah yang menutupi 71% permukaan Bumi.

Bumi kerap disebut sebagai planet air. Artinya, sebagian besar kehidupan di planet ini sangat bergantung pada ekosistem perairan. Di dalamnya, mikroalga hidup dan berkembang dalam jumlah yang sangat besar. Organisme kecil ini mampu berfotosintesis seperti tumbuhan darat, menghasilkan oksigen, sekaligus membentuk biomassa.

Jika hutan bekerja di daratan, maka mikroalga bekerja di lautan, sungai, dan danau. Bahkan bisa jadi, kontribusi mereka terhadap produksi oksigen dunia jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

Ironisnya, di tengah meningkatnya deforestasi dan degradasi lingkungan, perhatian terhadap peran mikroalga masih sangat minim. Kita cenderung memandang air hanya sebagai sumberdaya yang bisa dimanfaatkan, bukan sebagai sistem kehidupan yang kompleks. Padahal, di setiap badan air terdapat fondasi rantai makanan yang dimulai dari mikroalga.

Menurut saya, sudah saatnya paradigma kita berubah. Mikroalga bukan sekadar organisme penyebab warna hijau di kolam atau fenomena “blooming” di laut. Mereka adalah produsen utama dalam ekosistem perairan. Tanpa mikroalga, zooplankton tidak memiliki sumber makanan.

Tanpa zooplankton, populasi ikan akan terganggu. Dan pada akhirnya, manusia pun ikut terdampak. Artinya, stabilitas ekosistem global bergantung pada organisme yang bahkan tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang.

Lebih dari itu, mikroalga menawarkan harapan nyata dalam menghadapi krisis iklim. Kita tahu bahwa karbon dioksida (CO₂) adalah salah satu gas rumah kaca utama yang memicu pemanasan global. Mikroalga menggunakan CO₂ sebagai bahan baku fotosintesis. Dengan kata lain, mereka secara alami berfungsi sebagai penyerap karbon.

Langkah konkret sudah mulai dilakukan. Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi foto bioreaktor berbasis mikroalga untuk membantu mereduksi emisi karbon. Ini menunjukkan bahwa mikroalga bukan hanya solusi ekologis, tetapi juga solusi teknologi yang aplikatif.

Jika dikembangkan secara masif dan efisien, bukan tidak mungkin mikroalga menjadi salah satu kunci strategi mitigasi perubahan iklim di masa depan.

Selain itu, kemampuan mikroalga dalam menyerap dan menguraikan zat pencemar membuka peluang besar dalam bidang bioremediasi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Chemosphere (2022) menunjukkan bahwa mikroalga berpotensi efektif dalam mengatasi pencemaran logam berat di perairan.

Ini membuktikan bahwa solusi terhadap kerusakan lingkungan sebenarnya sudah tersedia di alam dan kita hanya perlu mengelolanya dengan bijak.

Bagi saya, yang menjadi persoalan utama bukanlah apakah mikroalga penting atau tidak. Jawabannya jelas: sangat penting. Persoalannya adalah apakah kita mau memberi perhatian, investasi riset, dan kebijakan yang memadai untuk memaksimalkan potensinya.

Kita hidup di era krisis iklim, pencemaran, dan ketidakseimbangan ekosistem. Dalam situasi seperti ini, mengabaikan mikroalga sama saja dengan mengabaikan fondasi sistem kehidupan di perairan. Organisme kecil ini mengajarkan satu hal penting kalau ukuran tidak selalu menentukan dampak. Yang tak terlihat sering kali justru paling menentukan.

Sudah saatnya mikroalga keluar dari bayang-bayang dan diakui sebagai salah satu pilar utama keberlanjutan Bumi. Jika hutan adalah paru-paru daratan, maka mikroalga adalah paru-paru samudra dan mungkin, penyelamat masa depan kita.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Stok Bantuan Bencana Habis, DPRD Desak Pemprov Maluku Terbitkan SK  Tanggap Darurat

    Stok Bantuan Bencana Habis, DPRD Desak Pemprov Maluku Terbitkan SK Tanggap Darurat

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi III DPRD Provinsi Maluku bakal memanggil Pemerintah Provinsi Maluku melalui Bappeda dan BPKAD untuk menggelar rapat bersama terkait penanganan darurat bencana. Langkah ini diambil menyusul informasi bahwa stok bantuan bencana pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah habis, sementara bencana terus melanda sejumlah wilayah akibat cuaca ekstrem. Ketua Komisi III DPRD Maluku, Jafet Jemmy […]

  • Pikiran dan Tindakan Kepemimpinan Amrullah Usemahu untuk Mata Garuda LPDP 2025

    Pikiran dan Tindakan Kepemimpinan Amrullah Usemahu untuk Mata Garuda LPDP 2025

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tajukmaluku.com-Amrullah Usemahu memulai kariernya di dunia organisasi lebih dari dua dekade lalu, saat menjadi mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perikanan di Universitas Darussalam Ambon. Ia aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa. Karakter kepemimpinan Amrullah telah dibentuk sejak mahasiswa. Pada tahun 2007, ia terpilih sebagai Koordinator […]

  • PLN UP3 Ambon Dorong Sosialisasi Keselamatan Listrik Jelang HUT RI ke-80: Pastikan Perayaan Meriah dan Aman

    PLN UP3 Ambon Dorong Sosialisasi Keselamatan Listrik Jelang HUT RI ke-80: Pastikan Perayaan Meriah dan Aman

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ambon menginisiasi kegiatan sosialisasi keselamatan kelistrikan kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan oleh para Team Leader Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) dari seluruh Unit Layanan Pelanggan (ULP) di […]

  • Abaikan Instruksi Presiden, Pembentukan Kopdes Merah Putih di Kabupaten Buru Dinilai Cacat Prosedur

    Abaikan Instruksi Presiden, Pembentukan Kopdes Merah Putih di Kabupaten Buru Dinilai Cacat Prosedur

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih di Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku dinilai berpotensi cacat prosedur sejak awal. SEMMI Cabang Buru menemukan praktik penggabungan lima desa dalam satu titik pembentukan, sebuah pola yang bertolak belakang dengan aturan resmi yang mewajibkan pembentukan koperasi di setiap desa secara mandiri. Darman Umamiti, Ketua Umum SEMMI Cabang Buru, […]

  • Fransiane Puttileihalat Poros Baru Figur Birokrat Menuju Kursi Bupati SBB

    Fransiane Puttileihalat Poros Baru Figur Birokrat Menuju Kursi Bupati SBB

    • calendar_month Selasa, 27 Agt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon, Tajukmaluku.com– Nama Fransiane Puttileihalat siapa yang tidak mengenal sosok yang satu ini di Kabupaten SBB, perempuan karir yang cerdas, penuh senyuman dan santun itu tidak lagi asing bagi masyarakat SBB, nama besarnya sudah tentu familier baik itu pada kalangan politisi, Akademisi, hingga birokrasi mengapa demikian sebab sebagian dari hidupnya telah mengabdikan untuk mengabdi diberbagai […]

  • Pengukuran Terjadwal, Warga Kota Bengkulu Rasakan Presisi Waktu Jadwal Ukur Tanah

    Pengukuran Terjadwal, Warga Kota Bengkulu Rasakan Presisi Waktu Jadwal Ukur Tanah

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tajukmaluku.com-Kesibukan sehari-hari menuntut setiap orang cermat dalam membagi waktu, termasuk untuk mengurus urusan pertanahan. Jadwal yang jelas menjadi kunci mengatur jalannya berbagai keperluan agar tidak saling berbenturan waktu. Dalam proses pendaftaran tanah, masyarakat kini bisa mengetahui secara pasti kapan tanahnya akan diukur sehingga waktu untuk aktivitas lain dapat diatur dengan lebih baik. Pengalaman ini dirasakan […]

expand_less