Dikira Lumut, Ternyata Mikroalga: Pentingnya Edukasi Biologi
- account_circle Admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Tri Santi Kurnia
(Dosen UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon dan Mahasiswa S3 Biologi UGM)
Tajukmaluku.com-Saat kita melihat air pada dinding bak penampung atau toren air telah dipenuhi lapisan hijau yang menumpuk dan terasa licin serta mempengaruhi warna air, seringnya kita mengatakan bahwa air telah berlumut. Padahal kita telah keliru. Tidak semua yang tumbuh berupa lapisan berwarna hijau dan terasa licin adalah lumut.
Sesungguhnya, lapisan hijau tipis yang menumpuk tersebut adalah koloni mikroalga. Lumut dan mikrolaga memang sama-sama hidup di daerah lembab. Akan tetapi kedua organisme ini memiliki perbedaan yang besar jika diteliti dan diamati dengan mikroskop.
Bahkan habitat dan mekanisme hidup dari keduanya pun berbeda. Kekeliruan ini mungkin dianggap sepele, tetapi dapat menjadi salah satu indikator pentingnya edukasi biologi bagi masyarakat.
Lumut dan mikroalga sering sulit dibedakan karena keduanya sama-sama berwarna hijau dan tumbuh di tempat lembab hingga berair. Akan tetapi, lumut bukanlah organisme sejati yang hidup di air seperti mikroalga.
Lumut hidup di area yang lembab, sangat dekat dengan air atau sedikit terendam air, tetapi sejatinya lumut adalah tumbuhan darat. Ini berbeda dengan mikroalga yang sejatinya hidup di air.
Dalam sistem klasifikasi biologi, lumut termasuk dalam kelompok tumbuhan, sedangkan mikroalga termasuk dalam kelompok organisme protista. Lumut masuk dalam Divisi Bryophyta, sedangkan mikrolaga hijau masuk dalam Divisi Clorophyta (masih ada beberapa divisi mikroalga lainnya).
Lumut merupakan tumbuhan tingkat rendah yang multiseluler (tubuh terdiri dari banyak sel), sedangkan mikroalga merupakan organisme yang uniseluler (tubuh hanya terdiri dari satu sel tunggal).
Dengan demikian, lumut memiliki struktur tubuh yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan mikroalga. Ukuran tubuh lumut jauh lebih besar daripada ukuran tubuh mikroalga.
Lumut memiliki rhizoid (struktur menyerupai akar tumbuhan tetapi lebih sederhana) untuk menempel dan menyerap air, sedangkan mikroalga adalah sebagai kelompok fitoplankton di perairan.
Sebagai fitoplankton, mikroalga memiliki peran krusial dalam rantai makanan, dan siklus jaring-jaring makanan pada ekosistem perairan. Mikroalga juga mampu mengasilkan biomassa untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.
Lebih jauh, mikroalga mampu menyerap karbondioksida yang adalah salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global.
Di sisi lain, lumut adalah organisme yang berperan penting dalam menjaga kelembaban tanah dan faktor penting dalam proses pembentukan lapisan tanah.
Lumut dan mikroalga sama-sama penting dan mampu menggunakan cahaya matahari untuk menghasilkan energi bagi kehidupannya melalui fotosintesis. Ini dimungkinkan karena kedua organisme ini sama-sama memiliki pigmen klorofil.
Meskipun memiliki persamaan, tetap saja lumut berbeda dengan mikroalga. Perbedaan mendasar tercermin jelas secara morfologi, anatomi, fisiologi, dan ekologi keduanya. Perbedaan ini turut mempengaruhi peran masing-masing dalam ekosistem.
Lumut berperan pada ekosistem terestrial (di darat), sedangkan mikroalga berperan dalam ekosistem akuatik (di air). Perbedaan ini penting untuk dikenal agar kita tidak menyamaratakan semua organisme hijau sebagai satu kelompok yang menyebabkan kekeliruan penafsiran dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang dalam masyarakat kita tidak terbiasa membedakan organisme di sekitarnya berdasarkan ciri biologis. Literasi sains yang minim menjadi salah satu penyebab utama kekeliruan ini. Ditambah lagi edukasi formal saja seringkali tidak cukup untuk membekali masyarakat dengan ketelitian observasi terhadap lingkungan sekitar.
Akibatnya, pengetahuan yang dimiliki cenderung bersifat umum dan tidak akurat. Padahal, edukasi biologi yang baik dapat membantu masyarakat dalam menghadapi fenomena lingkungan, seperti perubahan warna air dan dampaknya. Dengan mengenal organisme biologi di sekitarnya, masyarakat akan mudah menemukan solusi yang tepat terhadap suatu fenomena yang menimbulkan masalah.
Menurut saya, kita sebagai manusia yang secara biologi merupakan bagian dari ekosistem dan secara teologi adalah khalifah di muka bumi perlu mengenal dua jenis ciptaan Tuhan ini.
Dengan mengenal, kita dapat membedakan dengan tepat antara lumut dan mikroalga. Bila kita mengenal dan mampu membedakannya dengan tepat maka kita akan menyadari bahwa kedua organisme ini memiliki peran ekologis yang penting bagi kehidupan.
Akhirnya, membedakan lumut dan mikroalga secara akurat adalah langkah kecil menuju kesadaran ilmiah. Jika masyarakat mampu memahami alam secara cermat, maka kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan juga secara otomatis akan ikut tumbuh.*
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar