Breaking News
light_mode

Menjadi Terbiasa dengan Konflik di Maluku

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
  • visibility 266
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dhani Pelupessy

(Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji)

Tajukmaluku.com-Kita sering berkonflik tanpa tahu asal penyebabnya dari mana. Penyebabnya sangat beragam. Aktor intelektual dibalik konflik yang meletup itu pun kita tidak punya kemampuan mengetahuinya. Siapa pelakunya? Tidak tahu. Sasaran terakhir ialah pihak kepolisian, harus kerja ekstra mengusut tuntas siapa pelakunya.

Namun, pihak kepolisian kewelahan. Intelijen pun bingung. Padahal, mereka diajarkan “asas praduga tak bersalah”. Situasi ini memang sangat dilematis bagi polisi. Kalau mereka tetapkan “siapa tersangkanya” berdasarkan “asas praduga tak bersalah”, khawatirnya akan muncul reaksi dari masyarakat. Orang-orang berontak melawan polisi. Memang, semua ini serba salah.

Karena tidak tahu siapa pelakunya, kita pun mulai meraba-raba dan menganalisis. Bahwa konflik di Maluku disebabkan oleh persoalan struktural ekonomi-politik. Misalnya, masalah ketimpangan, ketidaksejahteraan, akses pendidikan yang terbatas, dan segala persoalan lain yang berkaitan dengan semua itu kita anggap sebagai akar masalah konflik di Maluku.

Sementara di sisi lain, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat berdasarkan logika pembangunannya sendiri. Tujuannya sangat mulia, untuk kesejahteraan kolektif, agar konflik dapat teratasi. Namun, terkadang logika pembangunan itu tidak sejalan dengan ‘local wisdom’ masyarakat Maluku. Jadi, semua menjadi buntu.

Menelusuri akar masalah konflik di Maluku tidak ada habisnya. Konflik di Maluku telah menjadi semacam laboratorium bagi para peneliti sosial. Mulai dari para antropolog, sosiolog, psikolog, ilmu politik, hukum, ilmu-ilmu keagamaan (baik Islam maupun Kristen), dan studi filsafat, semua telah berupaya membongkar akar persoalan konflik di Maluku. Tapi, semua itu tampaknya tidak berfungsi dalam penyelesaian konflik di Maluku.

Akhirnya, semua studi itu hanya tersimpan di balik ruang-ruang perpustakaan. Semua studi itu berubah menjadi arsip dengan katalog yang lumayan banyak. Kemudian, arsip-arsip itu mengendap dalam ingatan kolektif kita bersama. Membentuk pengetahuan dan pemahaman. Tapi, belum terejawantahkan menjadi program untuk pengentasan masalah konflik di Maluku.

Meskipun demikian, studi-studi yang telah dilakukan itu suatu saat akan memberi manfaat. Terutama bagi generasi Maluku ke depannya. Ketika mereka mulai membuka arsip studi-studi itu, pasti mereka terkaget-kaget. Betapa “bodohnya” orang-orang Maluku di masa lampau, yang sebetulnya adalah kita saat ini. Begitulah kira-kira, jika saya membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.

Konflik di Maluku memang tidak pernah habis dibahas. Titik temu pemahaman dalam penyelesaian konflik ini tak pernah terjadi. Masing-masing dengan logikanya sendiri. Semua menyodorkan pandangan paling terbaik untuk penyelesaian konflik di Maluku, yakni dengan cara ini dan itu. Tapi, sebetulnya tidak ada titik temu pemahaman yang jelas dalam pengentasan konflik tersebut.

Pemerintah daerah punya pemahaman sendiri. Para intelektual publik juga punya pemahamannya sendiri. Masyarakat pun punya pemahamannya sendiri. Semua pemahaman bergerak secara sporadis, terpisah-pisah. Tidak ada titik temu yang jelas. Akhirnya, konflik terus meletup dan mengambang tanpa arah jelas.

Dialog publik sudah berapa kali di lakukan, mempertemukan unsur pemuda, intelektual publik, pemerintah, legislator, dan masyarakat, tapi hasilnya tetap sama saja. Konflik masih terus terjadi. Konflik tidak pernah hilang. Ya, konflik tidak pernah hilang. Konflik akan terus menjerat psikologis kita sehari-hari, dan kita mulai terbiasa dengannya. Tapi, apakah ini pilihan rasional?

Meminjam pendapat Donna J. Haraway, bahwa kita saat ini hidup dalam situasi penuh masalah. Kita tidak bisa keluar darinya. Kita harus hidup di dalamnya. Menyatu dengan masalah itu, sembari membangun relasi kekerabatan dengan semua makhluk hidup. Artinya, kita tidak bisa menghindari konflik. Kita harus hidup di dalam konflik itu sendiri. Menjadi terbiasa dengannya.

Tapi, kadangkala kita berusaha menyelesaikan konflik itu dengan membayangkan situasi aman di masa mendatang. Bagi Donna J. Haraway, bahwa hidup dengan masalah tidaklah seperti itu. Kita tidak bisa keluar dari konflik dengan cara membayangkan situasi aman di masa depan. Kita harus hidup di dalam konflik itu sendiri. Dan ini adalah pilihan rasional.

Jadi, kita harus terbiasa dengan konflik itu sendiri. Menjadi rutinitas harian yang perlu kita jalani secara terus menerus ke depannya. Menyatu dengannya. Dengan begitu, kita akan mendapati banyak jawaban tak terduga dibalik konflik yang terus terjadi. Jawaban-jawaban itu nantinya akan menjadi solusi yang lebih orisinil terhadap pengentasan konflik di Maluku.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyidik Polres Buru Limpahkan Tersangka PETI ke Jaksa

    Penyidik Polres Buru Limpahkan Tersangka PETI ke Jaksa

    • calendar_month Selasa, 25 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Penyidik Satreskrim Polres Buru melakukan tahap 2 atau penyerahan Tersangka Penambang Emas Tanpa Ijin (PETI) bersama berkas perkara dan barang bukti kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kejaksaan Negeri Buru. Tersangka yang dilimpahkan ke JPU adalah berinisial BM alias Buhari. Ia diserahkan setelah berkas perkaranya dinyatakan lengkap atau P21 berdasarkan Surat Kejaksaan Negeri Buru Nomor : […]

  • Pj Kades Waeperang Pecat Massal Perangkat Desa, Diduga Bermotif Balas Dendam Politik

    Pj Kades Waeperang Pecat Massal Perangkat Desa, Diduga Bermotif Balas Dendam Politik

    • calendar_month Senin, 7 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Buru,Tajukmaluku.com-Kekuasaan tampaknya terlalu dini mengubah haluan akal sehat Abukasim Umanailo. Baru beberapa waktu menjabat sebagai Penjabat Kepala Desa Waeperang, Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Abukasim langsung memicu kegaduhan publik dan stabilitas desa dengan tindakan kontroversialnya. Memecat seluruh perangkat pemerintah desa. Enam tenaga Posyandu, empat petugas Linmas, seluruh Ketua RT dan RW, sekretaris desa, hingga staf admnistrasi […]

  • Terindikasi Palsu, Berikut Kejanggalan Surat Penyerahan Mandat Raja Batu Merah 1926

    Terindikasi Palsu, Berikut Kejanggalan Surat Penyerahan Mandat Raja Batu Merah 1926

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Selain naskah Sejarah Desa Batu Merah yang diyakini palsu. Keaslian Surat Kuasa penyerahan mandat kepemimpinan Raja Negeri Batu Merah tertanggal 14 Juni 1926 kembali dipersoalkan. Dokumen yang selama ini dijadikan rujukan itu diduga bukan berasal dari periode kolonial, melainkan dibuat jauh setelahnya, dengan indikasi kuat di era 2000-an. Sumber anonim yang bermukim di Belanda menyebut, […]

  • Lewat LKPJ Gubernur Maluku 2025, DPRD Rekomendasi Pengelolaan Pasar Mardika Diserahkan ke Pemkot Ambon

    Lewat LKPJ Gubernur Maluku 2025, DPRD Rekomendasi Pengelolaan Pasar Mardika Diserahkan ke Pemkot Ambon

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku merekomendasikan agar pengelolaan Pasar Mardika diserahkan kepada Pemerintah Kota Ambon. Hal ini mereka sebutkan sebagaimana amanat Undang-undang yang mengatur kewenangan pengelolaan pasar berada di tingkat Kabupaten atau Kota. Rekomendasi itu disampaikan dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Maluku Tahun Anggaran 2025. Dengan pertimbangan efektivitas pengelolaan serta optimalisasi […]

  • PLN UIW MMU Hadirkan Asa Lewat Program LUTD, Febry Tetelepta Dukung Pemerataan Energi di Maluku

    PLN UIW MMU Hadirkan Asa Lewat Program LUTD, Febry Tetelepta Dukung Pemerataan Energi di Maluku

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Piru,Tajukmaluku.com-Di tengah tantangan pemerataan pembangunan dan akses energi di kawasan timur Indonesia, PT PLN (Persero) terus membuktikan peran nyatanya sebagai garda terdepan dalam membangun keadilan energi. PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku dan Maluku Utara melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Piru, kembali menyalurkan sambungan listrik gratis bagi masyarakat prasejahtera. Kali ini, program itu menjangkau Dusun […]

  • Peduli Lingkungan, PLN UIW MMU Laksanakan Aksi Bersih Laut dan Pantai di Tual

    Peduli Lingkungan, PLN UIW MMU Laksanakan Aksi Bersih Laut dan Pantai di Tual

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tual,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tual menggelar kegiatan Aksi Bersih Laut dan Pantai sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian ekosistem pesisir dan terumbu karang di wilayah Tual. Minggu (31/5/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Menjaga Ekosistem Terumbu Karang untuk Laut yang Lestari” ini melibatkan […]

expand_less